contemplation

Untuk Teman yang Datang dan Pergi

7:17 PM


Jadi, gue punya seorang teman. Teman jaman maba sih, kita ketemu di salah satu rangkaian kegiatan mahasiswa baru waktu masa orientasi kampus dulu.

Gue juga gak tau kenapa gue bisa ketemu dan kenal dia di antara sekian ribu mahasiswa baru yang masuk ke kampusku itu.

Everything was fine, semuanya biasa aja sampai suatu saat dia mulai nge-chat gue, padahal tadinya kita palingan ngobrol lewat grup doang (kita dulu pernah satu kelompok gitu deh ceritanya). Awal dia nge-chat gue buat nagih tugas, soalnya dia ketua kelompoknya. Tapi habis itu kita malah ngobrolin hal-hal lain. Dan ya, gue menerima dia sebagai teman.

Gue selalu senang dapat teman baru, dan yang gue maksud di sini bukan cuma teman biasa yang gue kenal. Maksud gue adalah teman yang benar-benar teman, bukan cuma kenalan biasa. Apalagi dia cowok, gue udah lama banget gak punya teman cowok haha :') (terakhir dapat temen cowok itu SMP, soalnya waktu SMA gue aksel jadi gak sempat bergaul sama banyak orang :( )

I trusted him. ActuallyI always trust my friends. Gue senang cerita sama dia, secara gak sadar kita chatting hampir tiap hari. Terus.. yah.. jujur nih, gue sedikit terbawa perasaan (yaampun parah banget, padahal gue jarang banget begini!) Gue selalu mengingatkan diri gue supaya jangan sampai terbawa arus, jadilah gue mulai bertingkah aneh supaya gue tetap fokus dan gak mikirin yang lain-lain. Gue sadar kok gue mulai aneh, tapi yah mau gimana lagi, entar malah terjadi hal-hal yang tidak boleh terjadi. Hanya saja.. mungkin gue bertindak terlalu jauh sampai suatu saat dia menghilang.

Iya, ngilang gitu aja, gak ada kabar apa-apa.

Sebenarnya, gue gak begitu mengerti sih apa yang terjadi. Salah gue kah, salah dia kah, salah siapa kah, gue gak tau. Tapi gue punya kebiasaan buruk if something bad happens to me: I tend to blame myself. Jadi waktu dia pergi.. gue mulai menyalahkan diri gue sendiri.

Sebelumnya, gue udah pernah punya pengalaman buruk soal ditinggal teman. Gue bener-bener ditinggalin gitu aja, tiba-tiba aja mereka semua ngejauh tanpa kata-kata. Jadilah gue sendiri, bener-bener sendiri, bahkan gak ada orang yang duduk sebangku sama gue. Mungkin gue ada salah, ya, bisa aja, tapi mereka tidak mengatakannya. Mereka tidak memberiku nasihat atau apa pun. Atau mungkin mereka hanya capek berteman sama gue? Atau gue yang suka nyusahin mereka? Gue gak tau. Bener-bener gak tau. Gue menerima semuanya dengan pahit, setiap hari rasanya berat banget buat bangun di pagi hari, karena gue sadar gue harus ke sekolah dan harus ketemu mereka yang gak bisa lagi gue sebut "teman". Gue gak punya siapa-siapa buat cerita. Akhirnya, yah, gue pendam sendiri, gue nangis hampir tiap malam, sampai gue lulus dari sekolah itu.

Rasanya? Sakit, banget. Di situ juga gue menyalahkan diri gue, hanya saja rasa sedih dan kesendirian gue lebih dominan daripada rasa bersalah gue. Kejadian ini sempat membuat gue jadi tertutup banget sama orang-orang, gue gak berani cerita terlalu banyak tentang diri gue. Dan gue jadi sensitif banget soal pertemanan dan persahabatan. Gue takut menyakiti orang, gue juga takut disakiti.

Jadi waktu dia menghilang.. rasa sakitnya lebih parah lagi. Dia mengingatkan gue pada teman-teman gue yang dulu, yang ninggalin gue gitu aja. Gue trauma. Gue ingat rasanya dulu seperti apa, dia membuka luka lama yang udah berusaha gue tutup serapi dan sebagus mungkin. Dan dengan gampangnya dia menyayat perban yang menutup luka yang gue kira udah kering tapi ternyata belum.

Dan tentu saja, darah mengucur lagi keluar dari luka itu.

Kali ini rasa sedih dan bersalah campur aduk jadi satu. Gue membenci diri gue sendiri. Gue menyalahkan diri gue. Gue menyesali semuanya: gue menyesal kenal dia, gue menyesal ngobrol sama dia, gue menyesal percaya sama dia. Gue menyesal telah memberitahu dia terlalu banyak hal tentang diri gue. Tapi gue gak bisa membenci orang. Dari dulu gue memang gak bisa membenci orang. Gue gak membenci dia, entah kenapa.

Semester duaku dipenuhi oleh kesedihan dan rasa bersalah karena dia menghilang. I felt betrayed. Karena semester dua gue agak gabut (kuliah gue waktu itu belum sibuk, mata kuliahnya gampang dan praktikum cuma satu), banyak waktu luang yang gue dapat. Dan biasanya kalo punya waktu luang gue malah overthinking. Jadi, yah, makin makin deh itu rasa sedih membuncah, bisa membuat gue nangis tiba-tiba, tanpa pandang waktu dan tempat. Akhirnya, gue sampai sakit (gue punya penyakit yang bisa kambuh kalau gue terlalu capek sampai lupa makan dan tidur atau kalau gue punya beban pikiran yang berat).

Nyokap gue sampai bingung, sebenarnya gue punya masalah apa sampai itu penyakit bisa kambuh. Dan gue membiarkan nyokap berpikir kalau gue terlalu banyak mikir belajar buat kuliah sampai stres dan akhirnya sakit. Padahal sebenarnya aku sama sekali tidak punya masalah soal akademis. Aku selalu bisa mengikuti pelajaran, akademis tidak pernah menjadi beban pikiranku.

Dia yang menjadi beban pikiranku.

Tapi masa gue bilang ke nyokap, "Ma aku ditinggalin teman gitu aja, padahal aku udah percaya sama dia." Konyol banget. Hal-hal seperti itu gak bakal dianggap serius sama orang tua gue. Palingan mereka bilang "Ya kan masih banyak teman yang lain" atau hal lain semacam itu.

Oh iya, gue gak menceritakan apa pun ke ortu gue soal gue yang ditinggalin teman-teman gue sebelumnya karena waktu itu keluarga gue lagi ada masalah dan gue gak ingin membuat keadaan menjadi lebih buruk. Makanya semuanya gue simpan sendiri.

Singkat cerita, lambat laun gue bisa menerima kenyataan bahwa dia pergi, sama seperti teman-teman yang dulu ninggalin gue. Meski kadang ada aja beberapa hal yang mengingatkan gue akan dia, gue terus mengingatkan diri gue bahwa itu semua udah lewat, dan gue harus move on. Gue gak boleh sedih terus, meski sakit rasanya kayak ditampar. I deserve to be happy. I chose to be happier.

Gue merelakan dia. Gue merelakan semuanya. Toh semuanya udah berakhir, mau diapain lagi? Dia juga udah nge-block gue, jadi ya udah, gue emang gak bisa apa-apa lagi. Gue merelakan dia seperti gue merelakan teman-teman gue dulu. Gue menerima kenyataan bahwa mereka cuma mampir di hidup gue.

Tau gak habis itu apa yang terjadi? Setahun lebih beberapa bulan setelah dia menghilang, dia muncul lagi.

Iya, muncul gitu aja, kayak cara dia ngilang. Tiba-tiba nge-chat gue lagi gitu. Dan gak bilang maaf juga.

I was speechless. I mean, ya gue udah merelakan semuanya. Gue gak pernah ngarepin atau berandai-andai dia bakal balik. Gue mikir, ya udah, semua udah berakhir. Udah selesai, gak bakal ada kelanjutannya. Siapa sangka dia bakal kembali lagi?

Hal pertama yang terlintas di benak gue ketika dia kembali nge-chat gue adalah gue ingin nge-block dia balik. Gue ingin membanting pintu yang dia buka kembali setelah dulu dia tinggalkan, gue ingin membanting pintu itu sampai tertutup rapat di depan batang hidungnya. Gue ingin mengunci pintu itu rapat-rapat dan mengusir dia jauh-jauh dari kehidupan gue. Gue pengen dia tau gimana rasanya ditolak, gue pengen dia tau gimana rasanya ditinggalin.

Toh, gue udah merelakan dia. Toh, sekarang gue lagi menanggung beban hidup yang lebih berat (kuliah gue mulai berat, belum lagi ditambah urusan organisasi dan persekutuan di kampus dan gereja, belum lagi keluarga gue, belum lagi sahabat gue, belum lagi pergumulan gue buat pelayanan). Kenapa dia harus balik? Kenapa dia harus balik di saat gue udah merelakan semuanya dan lagi riweuh sama urusan lain?

Tapi kemudian gue sadar: memang harus seperti itu. Semua yang terjadi dalam hidup gue ada maksudnya, dan gue harus mencari kebenaran Tuhan dalam setiap perkara yang gue dapat. Dan gue gak bisa mengandalkan diri gue sendiri. Gak bakal pernah bisa. Selama ini, semua bisa ku lalui hanya karena Tuhan yang memberi kekuatan, dan gue tidak menyadarinya.

Jadi saat dia kembali, gue menerimanya. Meski aku ingin, ingin sekali menolaknya, gue tau gue harus menerimanya. Meski berat rasanya, gue belajar menyambut dia seperti teman lama. Gue belajar menghargai dia yang kembali datang, menghargai setiap chat yang dia kirimkan.

Taukah kau, G, setiap kali lo nge-chat gue, gue selalu bingung mau balas apa? Taukah kau alasan kenapa gue gak memberikan jawaban yang memuaskan saat lo menanyakan sesuatu ke gue? Karena gue sangat tergoda buat mengusir lo dari kehidupan gue. Sangat, amat tergoda. Gue bahkan setengah berharap lo nge-block gue lagi waktu awal awal lo balik.

Hanya saja, gue tau gue harus menerimanya. Gue harus mengasihinya. Bukankah aku juga sama seperti dirinya? Aku datang dan pergi seenaknya ke Tuhan. Tapi apakah Tuhan membenciku? Apakah Tuhan mengusirku? Tidak. Dia selalu menyambutku setiap kali aku datang kepada-Nya. Dia tetap mengasihiku. Dia memaafkanku. Dia menerimaku apa adanya.

Dan hal itu juga yang harus ku lakukan terhadap temanku yang tiba-tiba datang lagi itu.

G, setiap chat yang lo kirimkan adalah pergumulan bagi gue. Sulit, sulit sekali rasanya menahan godaan. Gue selalu berhati-hati memilih kata-kata, gue takut salah ngomong. Tapi di sisi lain.. gue juga gak mau merasa sakit lagi (masih manusiawi sih ya gue, mau gimana lagi. Gue bukan Tuhan, gue gak sempurna). Tapi gue mau berusaha buat mengasihi dia. Jadilah gue membalas chatnya dengan singkat-singkat. Bukan, bukan karena gue gak ikhlas atau capek balas chatnya. Karena gue takut kalau gue ngomong lebih banyak, gue malah menyakiti dia dan menghancurkan segalanya. Gue butuh waktu buat mencerna itu semua, gue butuh waktu buat membangun kembali kepercayaan gue kepadanya yang sempat hancur waktu dia pergi.

Namun, ketika akhirnya gue memutuskan untuk mempercayai dia kembali, he took it for granted.

Chat gue baru dibales seminggu kemudian, padahal tekad gue udah bulat buat kembali mempercayainya.

Kesal? Banget. Gue kesal banget. Ini orang maunya apa sih? Kok dibaikin malah begini? Gak mudah bagi gue buat mempersiapkan diri, buat memutuskan untuk mempercayainya lagi. Gak mudah bagi gue buat membuka diri kembali, apalagi sama orang yang udah pernah nyakitin gue. Gue berusaha keras loh buat bertahan untuk mengasihi dia. Gue berusaha keras loh buat menahan godaan untuk mengusir dia. Kenapa ini orang malah gak menghargai gue sama sekali?

Gue sempat goyah. Tapi karena gue tidak mau membuat keadaan jadi lebih buruk, gue menahan kekesalan gue, meski yah tetap aja bocor bocor dikit. Gue membalas chat-chat dia berikutnya hanya dengan stiker atau kata-kata singkat yang tidak perlu balasan. Dan suatu saat, yah, gue akui gue mungkin bertindak kelewatan lagi karena saat itu dia pengen mengeluh tapi gue tolak (gue masih kesel soalnya). Sepertinya dia bisa merasakannya dan mulai kesal juga sama gue, dia bilang gue jahat banget dan ngancam mau pergi aja (lagi).

Silakan saja, gue juga gak peduli. Lo juga jahat kok. Gue udah berusaha baik sama lo, but you took it for granted. Ke laut aja sana. Gue pengen banget bilang gitu ke dia saat itu, cuma gue tahan lagi. Gue harus bertahan, gue harus sabar. Tuhan selalu baik kepadamu kan, Fy? Bukankah kamu juga sering menganggap kasih Tuhan itu sebagai hal yang murah? Bukankah kamu juga sering tidak menghargai kasih Tuhan sebagaimana harusnya? Tapi Tuhan tetap mengasihimu, apapun yang terjadi.

Aku harus mengasihinya. Ya, itu jelas, jelas sekali. Bahkan gue ditegur lewat beberapa Firman yang gue baca setiap hari, seringkali itu menekankan bahwa gue harus mengasihi. Apalagi setelah gue tau dia lagi sakit yang lumayan parah, itu berarti gue harus mendoakannya juga, meski dia tidak menganggap doa itu sesuatu yang berarti. Gue harus bertahan mengasihinya.

Gue meminta kepada Tuhan, tunjukkanlah cara yang benar untuk menghadapi dia. Gue meminta kepada Tuhan untuk memanduku saat menghadapi dia. Karena gue gak bakal tahan kalau harus menghadapi dia sendiri, yang ada nanti dia gue usir gitu aja. Gue.. yah.. gue mendoakan dia.

Iya, G, gue ngedoain lo. Gue gak tau apakah ini berarti sesuatu buat lo, toh lo menganggap doa itu gak mempan, tapi gue akan terus mendoakan teman-teman gue. Gue selalu mendoakan teman-teman gue.

Aku memang tidak bisa mewujudkan kasih itu dengan sempurna kepada temanku yang datang dan pergi dan datang lagi itu, karena aku juga manusia. Aku terbatas, aku bukan Tuhan. Aku dengan mudahnya bisa kalah dengan godaan. Tapi bukan berarti itu jadi alasan bagiku untuk menyerah. Aku harus terus berusaha menjadi sempurna, meski tentu saja aku tidak akan pernah sempurna. Tapi aku harus tetap bertahan, berusaha menjadi lebih baik. Kalau memang aku tidak bisa mewujudkan kasih itu dalam perbuatan baik yang sempurna, kalau memang gue masih dibatasi oleh rasa kesal gue, setidaknya gue mendoakannya. Setidaknya aku melakukan sesuatu untuknya, setidaknya aku meminta kasih untuknya, dan jika Tuhan memang berkenan, aku meminta kesembuhan untuknya.

Namun, suatu saat gue jatuh sakit sampai harus diopname. Kondisi fisik gue menurun semenjak gue pulang dari RS karena gue batal transfusi dua kantong darah lagi, yang artinya gue kekurangan setengah liter darah dalam tubuh gue. Gue gampang merasa lelah, jantung berdetak lebih cepat setiap kali gue melakukan pekerjaan yang lumayan berat, napas juga jadi lebih cepat. Gue harus banyak istirahat, harus banyak makan, dan gak boleh banyak aktivitas dulu.

Setelah seminggu istirahat, akhirnya orang tua gue membolehkan gue keluar rumah. Tapi sekalinya keluar rumah malah diajakin jalan seharian. Itu menguras tenaga gue, jujur aja. Ketika akhirnya sampai di rumah, gue merasa capek banget, padahal malam itu gue masih harus siak war (sebenernya gform war, karena Farmasi warnya di gform terus entar hasil warnya itu baru diisi di siak masing-masing. Aneh emang ya, gue juga tidak mengerti). Dan saat itu gue masih belum tau mau ambil paket apa pas war nanti, karena waktu itu hape gue rusak dan gue gak tahan liat layar laptop lama-lama pas lagi sakit. Akhirnya malam itu bawaan gue jadi panik.

Dan malam itu juga dia ngechat gue. I was not in the mood for another chit chat, gimana mau ngobrol santai woy kalo lo lagi mau siak war tapi masih belum fix mau ngambil paket apa?? Ditambah lagi kondisi fisik gue yang lagi kelelahan karena habis diajak keluar seharian. Belum lagi gue harus mengurus dan mempersiapkan PSAF yang diadakan pada esok harinya (gue udah terlalu banyak merepotkan WaPJ gue selama hape gue rusak dan guenya sakit). Akhirnya, semua keluar begitu aja.

Aku mempersilakan dia pergi.

Dan dia beneran pergi. Gue beneran di-block lagi.

Sebenarnya ya, gue gak bermaksud ngusir dia. Kata-kata itu keluar gitu aja, karena gue udah lelah habis pergi seharian, panik gara-gara siak war, pusing sama PSAF. I lost control, that's it. Hanya saja, gue tau dia orangnya memang tipe orang yang sensitif dan (menurut dia sendiri, dia pernah bilang) baperan. Dan menurut teman-teman gue, guenya juga yang tidak peka. Jadi, yah, begitu deh.

Selesai. The end.

Kaget? Nggak, nggak sama sekali. Gue udah tau ini bakal terjadi cepat atau lambat. Gue udah tau dari awal dia balik, dan gue mengambil risiko itu. I've prepared for the worst.

Gue gak sedih sih pas dia ngilang lagi untuk kedua kalinya, karena dari awal gue udah nebak ini mungkin bakal terjadi. Probabilitasnya cukup tinggi, bisa dibilang begitu. Hanya saja gue merasa bersalah.

Gue salah, gue membiarkan rasa kesal gue berdiam terlalu lama dan menang. Gue salah karena kehilangan kontrol. Gue salah karena selama setahun lebih dia menghilang, gue bukannya memaafkannya. Gue berusaha melupakannya. Dan itu salah.

Gue akui, gue juga pasti punya salah, dan bisa aja kesalahan gue itu menyakiti dia cuma gue gak sadar. Bisa aja dia juga kesal sama gue tapi gak bilang apa-apa. Kita berdua sama-sama salah, hanya saja gak ada yang mau ngomong. We keep it to ourselves.

Jadi, G, selama sepuluh hari sejak lo pergi lagi, gue merenungi ini semua. Dan gue memutuskan untuk meminta maaf. Gue juga memutuskan untuk masih mau menjadi teman yang baik buat lo.

Gue memaafkan lo, G. Sekarang, maukah lo memaafkan gue?

contemplation

Aku (Sempat) Lupa Bagaimana Caranya Bersyukur

3:05 AM


Aku baru saja men-stalk akun twitter salah satu teman yang kukenal dari internet. Tidak sengaja sebenarnya, karena aku menemukan akunnya saat melihat-lihat tweet orang lain.

(Iya, aku masih bermain twitter. Iya, kadang aku suka stalking orang di internet. Maaf telah mengecewakanmu.)

Aku men-scroll profilnya dan membaca tweet-tweetnya. Tak sengaja aku menemukan tweet di mana dia mengingat kembali kematian ibunya setahun yang lalu.

Aku terkejut.
Aku terkejut karena sebelumnya aku sudah tahu bahwa ayahnya telah lama meninggal.
Yang berarti sekarang, sejak tahun lalu, dia tidak punya orang tua.
Kedua orang tuanya sudah tiada, meninggalkan dia yang masih duduk di bangku kuliah.

Aku tidak tahu apakah dia punya adik atau kakak, tapi dia tidak pernah mengunggah sesuatu yang menunjukkan bahwa ia punya saudara kandung. Mengingat dia adalah seorang ekstrovert dan lebih ke feeler daripada thinker, aku rasa dia pasti akan menunjukkan pada dunia maya tentang kehidupannya. Atau mungkin dia hanya tidak mau menunjukkan hal itu di media sosialnya, aku tidak tahu. Kami tidaklah sedekat itu untuk membicarakan hal-hal yang mendalam.

Mengetahui kondisinya yang seperti itu membuatku berpikir betapa tidak bersyukurnya aku atas keadaanku. Aku beruntung masih bisa memiliki keluarga yang utuh. Sedangkan dia telah kehilangan kedua orangtuanya, sumber kehangatan keluarga. Aku sudah terbiasa dengan cerita beberapa temanku yang hanya dibesarkan oleh salah satu orang tuanya, tetapi menjadi anak yatim piatu (dan aku asumsikan dia tidak punya seorang kakak yang sudah mapan)  di usianya yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi adalah hal lain.

Pastilah sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa lagi pulang ke kampung halaman dengan disambut oleh orang tuanya. Sangat sulit baginya untuk menyadari bahwa orang tuanya tidak akan datang ke acara wisudanya saat ia lulus nanti. Perasaannya pastilah campur aduk, I mean, dia sudah berjuang sekuat tenaga untuk dapat diterima di salah satu kampus ternama di negeri ini, di jurusan yang sangat ketat pula persaingannya. Dia sudah membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa kuliah di sini, di jurusan yang dia idam-idamkan meski sangat sulit masuk ke sana karena kuotanya yang memang sedikit sekali. Dia bahkan rela mengorbankan satu tahunnya setelah lulus SMA untuk belajar khusus untuk mengejar jurusan itu.

Banyak hal yang telah ia korbankan demi dapat meraih mimpi, mengejar cita-cita lewat pendidikan yang lebih tinggi. Pastilah ia berharap dapat membuat bangga ibunya saat ia lulus nanti. Pastilah dulu dia berandai-andai bagaimana saat wisuda nanti ibunya akan datang dari kampung, membawa bunga dan memeluknya, menangis bahagia dan berseru dalam hati, "Anakku lulus dari UI!"

Namun sayangnya, hal itu tidak akan pernah terjadi karena ibunya sudah lebih dulu pergi ke tempat yang lebih indah dari dunia ini.

Sejak tahun lalu, dia harus menerima kenyataan yang pahit ini: bahwa tidak ada lagi orang tua aslinya yang dapat ia buat bangga saat lulus nanti, setelah semua pengorbanan yang ia lakukan untuk dapat meraih jurusan impiannya yang sekarang menjadi kenyataan. Ia tidak akan bisa melihat air muka bahagia orang tuanya saat menghadiri acara wisudanya. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan, kenapa Tuhan begitu tega mengambil apa yang ingin sekali ia banggakan?

But I'm telling you, D, if you are reading this, Tuhan punya rencana. Gue emang gak mengenal lo secara mendalam, toh kita kenal dari internet, tapi gue percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu sudah direncanakan Tuhan. Bukan, bukan rencana untuk membuat lo hancur, tapi rencana yang baik, saking baiknya kita sendiri gak bisa ngebayangin, bahkan nebak aja gak bisa. Memang menyakitkan, memang menyedihkan, tapi ini bukan akhir dari segalanya. Percayalah, suatu saat nanti Tuhan sendiri yang akan membalikkan keadaanmu yang sekarang dengan kebahagiaan yang berlipat ganda, jika kamu tetap setia kepada-Nya dalam segala  kesesakan dan kesukaanmu.

Ini menjadi refleksi bagiku juga untuk tetap bersyukur atas apa yang aku punya. Aku masih punya kedua orang tuaku, meski hidup keluarga kami pas-pasan untuk ukuran orang yang tinggal di kota. Tapi Tuhan selalu menolong kami setiap kami butuh pertolongan. Banyak hal yang terjadi dalam keluargaku, kami semua diuji untuk tetap bertahan meski dalam kondisi sulit, meski banyak air mata dan sakit hati dan amarah. Tetapi Tuhan masih memelihara kami, karena kami tidak dibiarkan jatuh sepenuhnya. Pada akhirnya, hanya tangan Tuhanlah yang menolong kami keluar dari kesulitan kami.

Aku masih punya keluarga yang mengasihiku, walaupun tidak selalu dalam cara yang kuinginkan. Tetapi mereka tetap keluargaku. Mereka mengasihiku. Mereka masih hidup, utuh, setidaknya sampai saat ini. Seringkali aku bertingkah seenaknya, sometimes I take my parents for granted. Aku masih egois, namun aku masih tetap belajar untuk menurunkan egoku.

Aku juga sering kali buta akan keadaan orang lain, mungkin karena sifat egoisku juga. Aku merasa yang paling sedih, yang paling sakit dibanding orang-orang sekitarku, padahal aku tidak tahu permasalahan apa yang sedang mereka hadapi. Padahal, pasti ada orang-orang yang menanggung beban lebih berat daripada diriku. Kisah temanku D adalah salah satu buktinya. Kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja tanpa mengetahui kisah mereka. Mereka punya cerita sendiri yang membuat mereka menjadi diri mereka yang sekarang. Bukalah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan tangan yang terbuka untuk menerima mereka. Dan jangan pernah, jangan pernah, meremehkan apa yang mereka hadapi, karena kita tidak tahu persis bagaimana rasanya menjadi dia. Kau tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi pada mereka. Berbuat baiklah, bersimpatilah, berilah dukungan dan berdoalah untuk menolongnya.

Dan D, jangan lupa berdoa ya. Serahkan segala hal mengganggu hati dan pikiranmu kepada-Nya, karena hanya Dia yang bisa mengerti dan menolongmu seutuhnya. Jangan lupa, dalam setiap langkah hidupmu, Tuhan punya rencana yang baik untukmu. Jangan tinggalkan Dia karena tanpa Dia, kita tidak bisa apa-apa. Semangat!

feels

Your Favorite Shade of Gray

2:31 AM


Dear you,

I still remember the moment when you took me to your grandparents's place at the countryside on last holiday. I remember you held my hand tight along the way. Your hand was strong but astonishingly soft and warm. You never let go of my hand and stroked my fingers several times. Every time you did that, I always looked up to you to find you staring right into my eyes softly, and your smile was spreading wide on your face. I thought I could spend my life forever just by looking at you.

We arrived at your grandparents's home and they hugged you tightly. They turned to me and shook my hand enthusiastically, beamed with pleasure. Your grandma was so happy that she almost jumped right into me. You laughed, the most beautiful laugh I've ever heard.

Oh, how I miss hearing that laugh coming out from your mouth.

Every morning you would woke me up and took me outside, to the mountain, to fetch some water. I always enjoyed it, that feeling when the wind blew on my face, tickled my neck that made me shiver a bit. Then you would come and took my hand, led me wander through the dark trees. I challenged you to race to the stream and sometimes you let me win intentionally.

We filled our buckets and then took some rest in a hut not far from the stream. The hut was too high for me that you had to help me to get into it. That day we sat side by side, my hand in yours. I moved my dangled legs back and forth and you stared at the sky. We were waiting for the sunrise.

"What's your favorite color?" I suddenly asked you.
You smiled and said, "That's weird."
"Weird?" I was confused.
"Yeah, you know, we've been together for almost three months but you still don't know about my favorite color," you grinned at me.
I blushed. "Well, you've always been the mysterious one."
"You are totally right about it," you chuckled. "Yours is kind of bluish, isn't it?"
"Is it?" I teased you.
"A mix of blue and green, I bet. In other word, turquoise." you said it calmly.
"How do you know that?"
"Your pupils dilate every time you see that color," you said. I raised my eyebrows. "Kidding," you laughed, "you tend to choose that color every time you buy your things."

My eyes must had widened a bit because I could see your pleasure. "I didn't know you noticed such a small thing," I tried to cover my amazement.
"Only about what I like. Or who," you teased me.
"Like me?" I fluttered.
"Do I like you?" you tried to look like a fool.
"No, you don't. You don't like me. Because if you liked me, I would punch you in the face," I crossed my arms. You laughed again.
"You are right, your ladyship, I don't like you," you said. You didn't say anything for a moment. I bet you did it for a dramatic effect. "I love you."

I was so dumbfounded that I couldn't say anything. You took my hand and pulled me closer.
"There is no pretending. I love you, and I will love you until I die, and if there is life after that, I'll love you then," you quoted Jace Herondale from City of Glass.
I burst out laughing. "Did you just quote?"
"Did I?"
"I didn't know you read The Mortal Instruments! You said you don't like reading books," I laughed harder.
"I only said I do not prefer books. Doesn't mean that I hate it," you smiled.
"Well, boy, you won. I acknowledge it," I said, my cheeks burnt because of laughing.
"I know. Because that's what I do, you know, winning." you said, pompously arrogant.
"How very kind of you," I smiled, and you leaned closer to me and my heart was beating faster..

...and then the roosters began to crow. The sun was about to rise.
"That's it!" you suddenly averted your face.
I was so confused and surprised and a bit disappointed. "What?"
"My favorite color. Look," you pointed at the upstream. I turned to the side he pointed. Then I saw it, up in the sky.
"Gray?" I asked. "You like gray?"
"Not gray, exactly. Right before the sun rises there’s a moment when the whole sky goes this pale nothing color—not really gray but sort of, or sort of white—"
"—and I’ve always really liked it because it reminds me of waiting for something good to happen," I finished it. "You quoted again. I like it."
"Of course you like it, because it's me," you gave me that teasing smile. "I agree with Lena Haloway. I'm in love with this shade of gray."

I watched you staring at the sky as the sun started to rise. The breeze blew your hair, revealing your forehead. "But now it's fading. It's sad that it only lasts for a very short time," I said.
"That's why I adore it. When you realize that something only lasts for a brief time, you will cherish it even more," you smiled softly and then turned to me. "You will be grateful for every chance that are given to you. You won't take it for granted."

In that time I could see a glimpse of sadness and pain in your face. Somehow I thought I saw you in a super excruciating agony. Somehow I just wanted to cry and help you. I wanted to take some of the pain you were carrying on your shoulder.

I know nothing lasts forever. Nothing, even us. That's why you always gave your best in every chance given. That's why you always tried to enjoy your moments; because you didn't know what would happen next. That's why you never squandered anything you got. That's why I adore you, my dear, a lot.

My dear, I love you so much. You know that I was always afraid of you leaving me, but you promised me that you would not do it. That's why I could let you go to any place you want. But this time, I just can't. You failed to keep your promise, my dear, but I know I must get over it.

In this little turquoise box, I keep you safe. I hope you don't mind keep seeing my favorite color that you had guessed correctly on that day. But now it's time to get you out of it. I know you must have been so bored in it.

My dear, I'm so sorry you can't get your favorite gray. I'm sorry that you only got this ash gray.

The roosters start to crow. The tinge of your favorite gray break the sky. I strew your ash into the stream.

feels

Help

6:31 PM



I am standing still in front of my tall mirror. I stare at my reflection from the tip of my head to the tip of my feet.

And then I start crying.

It's not beautiful, though, both of my cry and what I see in front of me. I cry like a mix of a horse and a child whining. It sounds so horrible, but I can't help it. I try so hard, forcing my mouth to keep silent but my throat keeps betraying me. I end up biting my tongue as hard as I can so that no voice is out of my lips. My blood quickly rush through the wound.

And my eyes, my eyes, are no longer can hold my tears. It's like something has wrecked the sluice in my eyes; the tears keep flowing and running down my cheeks. I blink and blink and blink, hoping it can stop the flood, but nothing's changed. I can't stop, I can't, but I really want to.

I can barely breath. My nose filled by snot and mucus, it slowly but surely tortures me. My throat tightened, leaving me gasping, struggling for oxygen. It feels like a giant hand squeeze up my stomach that I almost throw up. I feel so scared, panic, insecure that I sweat so much. I'm afraid my heart is about to explode.

Is it true?
Is it true that pain is beauty?
Is it true?
Is it true that no one cares?

My hair, my face, my body,
what did they do?
Did they do something wrong?

Should I gather all money to afford every single trend?
Should I starve myself for the sake of beauty?
Should I strain myself doing some extreme exercises?
Should I get some surgeries to "fix my face"?

Should I? Should I?
No. I know the answer is no.

Then why do I feel so empty? In this crowded place, why do I feel so distant? Why do I feel so anxious, trying to mingle with these people? Why do I keep worrying about how they see me? Why am I afraid of "being not pretty enough"? Why am I afraid of getting left behind?

Too many why.

I'm sick.
I'm scared.

I take a lipstick on the dresser. It is the lipstick that I bought with all of my allowance. I take it and come back in front of the mirror.
Help, I write.

Then I punch it and punch it, over and over again, until it shatters all around me.
Help, I cry.

feels

Jika Kau Ingin Menangis

5:59 PM


Jika kau ingin menangis,
jangan izinkan orang melihat

Jika kau ingin menangis,
hiruplah napas dalam-dalam
redakan panas yang membara di dadamu
biarlah udara menenangkan gemetarmu

Jika kau ingin menangis,
tutuplah mulutmu rapat-rapat
jangan biarkan sendumu keluar
kencangkan rahangmu
gigitlah bibirmu
biarlah darah mengalir
asal jangan tangis yang mengalir

Jika kau ingin menangis,
kepalkan tanganmu kuat-kuat
biarlah sampai gemetar
biarlah kuku-kuku menancap
biar sakit menahan panasnya mata

Jika kau ingin menangis,
pejamkan mata rapat-rapat
tahan napas
jangan lakukan
jangan biarkan menetes

(karena sudah terlalu banyak yang menetes)

feels

The Unfairness of Your Hydrostatic Pressure

8:57 PM


In Physics I learn about hydrostatic pressure, a pressure that an object gets for being in a certain liquid and at a certain depth. It is equivalent with the density of the liquid, the gravity, and the height of the fluid above the object.

I am the object and you are the liquid; the fate somehow threw me into you. I nudged your surface and you let me come in, swimming through your mysterious fluid. I tend to go deeper and deeper, eager to explore every single side of you. Unfair, I think, that you can shroud the whole me while I am merely touching a little part of you.

But as the physics law about hydrostatic pressure states, the deeper an object goes into the liquid, the greater pressure the object gets. I can sense your pressure against me when I try to swim deeper into you; rejecting me to go further into your life. You tend to keep your walls around you, restraining me from seeing your true self: your soul. A soul that I am sure is utterly beautiful, no matter how damaged you think you are.

This hydrostatic pressure is blocking me from your depth. It suppresses me from every direction, preventing me to find out more about you. Every single part of me is trying to fight it, but sadly, your upward force is much stronger. You push me away from your life; from the depth that I was in to the surface where I am totally just another stranger to you.

Now I am floating in you, not sure if I should try harder to dip into you or just waiting for a miracle to get me taken away. The only thing that I can wish is you aren't able to dissolve any solutes. Because if you are, your density will be increased and so will your pressure against me.

(and so will the distance between me and you).

feels

My Dearest Nucleons

10:42 PM


We are like an alkali atom. You as the nucleus and I as the electron.
You, with the positive charge from the protons.
Me, with all my negativity.

You, still, stick in your place at the center.
Me, spinning on my axis, either clockwise or counter-clockwise, orbiting you.

You, distinctly obvious; your position can be identified precisely.
Me, lost in the clouds; no one would ever know where exactly I am.

The electromagnetic force attracts me to you, but sadly, my dearest nucleons, your nuclear force is much stronger than our bond. You can gather your protons and neutrons all by yourself, while me without you is just an insignificant matter.

Ironic, isn't it, or what do you call it about how easy is our electromagnetic force to get broken down, compared to your nuclear force? How insignificant is losing an electron, compared to ejecting the nucleons? Losing an electron just changes the charge of our atom, while ejecting the nucleons results nuclear decay, transmuting the nucleus, turning our atom into another atom. An electron, at the end, doesn't really matter at all to the nucleons.

Tragic, isn't it, that it takes no energy to get closer to you: in fact, the electron releases some energy to get closer to the nucleus. But it takes an enormous amount of energy for the electron to go farther from the nucleus, especially the one which was so close to it. Unfortunately, I don't have that much energy, while you, still brutally attract me with that electromagnetic force. I have tried, for a million times, crawling out from this force, yet also for a million times I failed miserably.

I am trapped, here, in the clouds of uncertainty, spinning, moving, and orbiting you. I am unstoppable, unpredictable in this bizarre thickness of the probability of quantum mechanic laws. You compulsively imprisone me in this trajectory, just to keep our atom stable rather than really wanting me to stay.

I am tired of all these things, my dearest nucleons. I am sick of repeating my orbit over and over again. I wish someday, a positive ion will get close to us, drawing me away from my obligation to keep orbiting you.

Or better, I wish you will get unstable so I can watch you tearing apart, losing parts of yourself decay, one by one. Because we know, my dearest nucleons, that it's all about stability.