Relativitas Hidup

9:45 AM


Bagiku, relativitas tidak hanya sebatas dilatasi massa, panjang, dan waktu.

Tahu kan, teori relativitas khusus yang terkenal, yang dikemukakan oleh Albert Einstein itu. Di mana massa, panjang, dan waktu suatu benda yang bergerak tidaklah mutlak, tetapi relatif terhadap seorang pengamat, baik yang diam maupun yang juga bergerak dengan kecepatan konstan tertentu.

Tapi menurutku, relativitas tidak hanya mencakup hal itu saja.

Jangan salah paham dulu. Aku tidak lebih pintar dari Einstein. Apalah aku, hanya seserpih butir debu kosmik dibandingkan Einstein yang adalah Jupiter.

Namun menurutku, hidup kita sehari-hari juga dipenuhi relativitas.

Setiap adjektiva, stigma, dan stereotip ciptaan manusia ini relatif. Bagaimana kau mendefinisikan sesuatu itu bagus? Jika kau menganggap sebuah lukisan itu bagus, apakah orang lain pasti juga akan beranggapan sama? Kita tahu jawabannya adalah tidak.

Mengapa demikian? Karena definisi 'bagus' setiap orang itu berbeda-beda. 'Bagus', yang adalah sebuah adjektiva, adalah relatif. Mengapa bisa relatif? Karena kita, bagaimanapun juga, adalah manusia yang punya keterbatasan. Kita, sayangnya, memerlukan suatu pembanding untuk menyatakan bahwa lukisan itu bagus. Tidak ada standar baku untuk mendefinisikan 'bagus' itu sendiri.

Yang membuatku sedih, relativitas hidup ini sering kali menjadi masalah. Sadar atau tidak sadar, kita cenderung membanding-bandingkan segala hal, yang tak jarang pada ujungnya menciptakan suatu stigma dan stereotip negatif. "Wanita jalang" untuk perempuan yang berpakaian terbuka. "Orang gila" untuk orang yang tidak sehat secara mental. "Bodoh" untuk anak yang mendapat nilai merah di rapornya. Kau tahu sendiri lah, masih banyak lagi segala adjektiva, stigma, dan stereotip lainnya, yang tidak bisa kusebutkan satu per satu di sini.

Itu semua ada karena perbandingan yang kita lakukan. Kita membandingkan mereka dengan orang-orang yang kita anggap "normal" pada umumnya, dan lantas menyebut mereka dengan berbagai macam sebutan. Einstein menyatakan bahwa relativitas memerlukan suatu kerangka acuan, dan dalam relativitas hidup kerangka acuan inilah yang cenderung kita pakai: "orang-orang normal pada umumnya" (selanjutnya disingkat ONPU agar lebih singkat).

Hanya sebatas itukah kerangka acuan kita? Bagaimana kita bisa tahu bahwa ONPU ini selalu benar, seperti halnya keabsolutan nilai kecepatan cahaya? Jika Einstein berhasil membuktikan bahwa kelajuan cahaya di ruang hampa adalah tetap untuk semua kerangka inersial, bagaimana kita membuktikan bahwa ONPU ini juga tetap benar untuk semua orang?

Satu syarat utama teori relativitas khusus Einstein: kerangka acuan yang digunakan adalah kerangka inersial. Jika kerangka acuan yang digunakan bukan kerangka inersial, maka kerangka acuan tersebut tidak bisa dipakai sebagai acuan relativitas. Apa itu kerangka inersial? Kerangka inersial adalah kerangka acuan yang tidak dipercepat (a=0, berarti v konstan), contohnya adalah bumi (bumi sebenarnya mengalami percepatan akibat rotasi dan revolusinya, hanya saja sangat kecil sehingga bisa diabaikan).

Lalu apa hubungannya dengan ONPU? Inilah yang menjadi tugas kita: memastikan bahwa ONPU adalah sebuah kerangka inersial. Apakah ONPU adalah kerangka inersial dalam kehidupan kita? Jika ya, maka kita bisa menggunakannya sebagai kerangka acuan. Jika tidak, berarti ONPU tidak bisa dipakai sebagai kerangka acuan kita.

Jika suatu kerangka dinyatakan sebagai kerangka inersial berdasarkan ada atau tidaknya percepatan, bagaimana dengan ONPU? Apa yang menjadi dasar kita menjadikan ONPU sebagai kerangka inersial kita? Layakkah ONPU kita jadikan sebagai kerangka inersial?

ONPU, tak terbantahkan, adalah manusia juga, yang tentunya memiliki kelemahan. Dan sering kali, ONPU begitu lemah sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal baru. Hal-hal baru ini mempengaruhi ONPU seperti layaknya sebuah gaya mempengaruhi suatu benda. Dengan adanya gaya, berarti menimbulkan adanya percepatan (F=m.a). Ada percepatan, berarti kerangka acuan ini bukanlah kerangka inersia. Artinya, ONPU bukan termasuk kerangka inersia sehingga tidak bisa dijadikan sebagai kerangka acuan relativitas hidup kita.

Lalu mengapa kita kerap kali menjadikan ONPU sebagai kerangka acuan kita dalam melabeli sesuatu di sekitar kita? Label-label ini, yang tentunya bersifat relatif, didasarkan atas kerangka acuan yang tidak valid, yaitu ONPU. Label-label ini, secara fisika, tidak bisa diterapkan karena menggunakan kerangka acuan yang salah. Kita telah melakukan suatu kekeliruan. Namun sayangnya, tak banyak orang yang menyadari. Tak banyak orang peduli, yang mau bersusah-susah mencari tahu apakah label yang mereka berikan adalah benar adanya.

Karena itu, kita perlu mengganti kerangka acuan kita. Kita perlu sesuatu yang konstan, yang tidak punya percepatan, untuk dijadikan kerangka acuan. Kita butuh sesuatu yang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal lain yang tidak baik. Dan menurutku, etika, nilai, dan norma (disingkat ENM) yang baiklah jawabannya. ENM yang baik sudah disepakati bersama dan sudah tertanam sejak dulu bersifat lebih stabil dan konstan.

Berdasarkan ENM, pantaskah kita menyebut perempuan yang berpakaian terbuka sebagai "wanita jalang"? Pantaskah kita menyebut orang-orang yang tidak sehat secara mental sebagai "orang gila"? Pantaskah kita menyebut anak yang mendapat nilai merah sebagai anak yang "bodoh"? Pantaskah kita melakukan hal-hal tersebut, yang mungkin tanpa kita sadari menyakitkan hati orang-orang yang kita labeli?

Apakah ENM mengajarkan kita untuk mengeneralisasi sekelompok orang yang memiliki kesamaan dengan kelompok lain? Apakah secara ENM, perempuan tersebut benar "wanita jalang"? Apakah orang tersebut adalah "orang gila"? Apakah anak tersebut benar anak yang "bodoh"?

Memang ada bagian dari ONPU yang layak kita jadikan kerangka acuan. Memang ada bagian dari ONPU yang konstan dan bernilai baik. Karena bagaimanapun juga, ONPU adalah manusia yang masih memegang ENM. Manusia yang menghasilkan ENM, bukan sebaliknya. Tapi tidak semua ONPU bisa selalu kita jadikan kerangka acuan, karena seperti yang kita ketahui, kasus krisis ENM kerap kali terjadi dalam ONPU.

Inilah yang menjadi tugas kita, melayakkan kembali ONPU sebagai kerangka acuan dengan cara menegakkan ENM di kalangan ONPU. Karena orang-orang cenderung menggunakan ONPU sebagai kerangka acuan, maka akan lebih mudah jika kita menegakkan ENM di kalangan ini daripada menciptakan ENM sebagai suatu kerangka baru dan menarik orang-orang untuk pindah haluan ke kerangka ini. Lebih baik kita berusaha menjadikan ONPU menjadi lebih baik, yang memegang teguh ENM sehingga orang-orang tidak lagi melakukan pelabelan terhadap orang lain berdasarkan ONPU yang tidak memegang ENM.

Stop stigmatizing people. Educate them. And to do that, start it with yourself.


Sumber acuan teori relativitas Einstein:
Surya, Yohanes. 2010. Fisika Modern. Tangerang: PT Kandel.

You Might Also Like

1 comments